Monday, 21 July 2008

Harry Potter and the Orde of Phoenix

Setelah berhasil mengalahkan Voldermort dalam buku Goblet of Fire, Harry menceritakan semuanya pada Dumbledore. Dumbledore pun percaya dan tidak membuang waktu mengingatkan Menteri Sihir akan kembalinya (atau bangkitnya) Lord Voldermort. Namun Menteri Sihir tidak mempercayai Harry (dan Dumbledore). Liburan sekolah pun dilalui Harry dengan mata dan telinga terbuka mencoba mengetahui apa saja tindakan Voldermort berikutnya. Hingga akhirnya Dementor muncul di kawasan perumahan Dursley dan memaksa Harry membuat Patronus untuk membela diri. Namun tindakannya ini justru menghasilkan surat ancaman bahwa ia akan dihukum karena melakukan sihir secara ilegal dan terancam dikeluarkan dari sekolah.

Sesaat sebelum masa sekolah dimulai Harry dibawa ke rumah keluarga Black yang dijadikan markas Orde of Phoenix yang dipimpin oleh Dumbledore langsung. Tidak seperti biasanya, Dumbledore tidak menyapa dan berbincang dengannya. Belum lagi, anggota Orde bersikeras untuk menyembunyikan apa yang mereka lakukan dari Harry dkk. Yang dianggapnya belum cukup umur. Hanya Sirius yang bersedia memberi sedikit informasi.

Kembali ke Hogwarts, penderitaan Harry belum berakhir. Kementrian Sihir mengutus seorang stafnya, Dolores Umbridge, menjadi pengajar Defence Against the Dark Art. Dan sekali lagi, mimpi buruk siswa akan guru yang tidak layak pada pelajaran ini pun berulang. Umbridge tidak hanya menjadi pengajar, ia juga menjadi pengawas sekolah. Dan pada akhirnya menjadi Kepala Sekolah. Lho kok? Kemana Dumbledore? Baca bukunya supaya tahu cerita lengkapnya, hehehe.

Saya makin jatuh cinta sama karakter Fred dan George Weasley ini. Gak ada mentoknya. Semua celah mereka gunakan. I personally thinks that they are much clever than the rest of Hogwarts student. Pasti deh. Bisa 'membelokkan' mantra untuk menciptakan benda-benda lucu-lucuan, seperti Permen yang bikin muntah, pusing, sakit perut, dan membuat permen penangkal nya sekalian. Bikin tongkat sihir palsu yang ngeluarin mantra guyonan. Lucu banget deh.

Sepertinya mulai di buku kelima ini, kematian lebih sering mengerubungi orang-orang terdekat Harry. Harry yang sudah dari dulu merasa kesepian di akhir buku makin merasa kehilangan. Jangan lewatkan percakapan Dumbledore dan Harry di akhir cerita. So touchy. Dumbledore juga manusia. Bisa salah juga.

Monday, 19 May 2008

You've got to read this book


Saya jatuh cinta sejak pertama kali melihat buku ini di Periplus PIM. Isinya adalah kumpulan cerita orang-orang sukses tentang buku apa yang merubah hidupnya. Entah disengaja atau tidak, sepertinya kebanyakan dari mereka adalah penulis. Ada juga atlet, musisi, aktris, sampai motivational speaker. Berikut saya beri beberapa nama mereka. Catherine Oxenberg, Lisa Nichols, Farrah Gray, Louise Hay, Rhonda Byrne, Jim McCan, dll. Bahkan kisah hidup masing-masing mereka saja menurut saya sudah inspratif.

Cerita mereka bermacam-macam. Jenis buku yang mereka pilih pun bermacam-macam. Cukuplah membuat saya menambah panjang list buku yang jadi target selanjutnya. Sebagian buku yang disebutkan memang sudah bisa ditemui dengan mudah disini (apalagi dengan maraknya toko yang menjual buku impor). To Kill a Mockingbird (yang sudah ada versi bahasa indonesianya), The Magic of Thinking Big, Gone with the Wind, The Alchemist, atau Buddha.

Karena formatnya adalah potongan tulisan terpisah, maka buku ini bisa dibaca secara putus-putus. Dilabel 175.000 di Aksara.

Gambar diambil dari situs sang buku

Thursday, 27 March 2008

Aisyah, the True Beauty


Agak ajaib mungkin kalo saya bilang awalnya saya kurang berminat membaca Khadijah, the True Love story of Muhammad atau Aisyah, the True Beauty. Padahal buku ini sedang jadi idola wanita-wanita di sekitar saya. Buku Aisyah ini jatuh ke tangan saya sebagai hadiah ulang tahun dari seorang teman.

Awalnya saya kira buku ini akan menggambarkan sosok wanita ideal yang jauuhhh sekali dari kesanggupan saya mencontoh. Namun ternyata tidak perlu berkecil hati, jika memang kita berniat memperbaiki diri, banyak fragmen-fragmen ksah yang bisa kita contoh.

Aisyah RA yang dinikahi Rasulullah di usia belia disebut sebut sebagai istri nabi yang paling dekat dengannya. Aisyah juga meriwayatkan hadits jauh lebih banyak dibanding istri-istri nabi lainnya. Aisyah adalah sosok wanita cerdas. Berayahkan Abu Bakar Asshidiq dan bersuamikan Rasulullah membuat dirinya berbekal ilmu keislaman yang kuat. Ia juga dikenal dermawan, makanan yang ia miliki seringkali habis disumbangkannya kepada orang yang membutuhkan. Ia dan Rasul pun akan berpuasa ketika persediaan makanan mereka habis.

Aisyah juga manusia biasa yang punya kekurangan. Rasa manja dan cemburunya sering ia ungkapkan kepada sang suami. Ia pun diceritakan kurang pandai memasak.

Informasi mengenai kekurangan Aisyah ini tidak mengurangi kekaguman saya padanya. Justru membuat sosok nya membumi dan realistis.

Buku ini bagus, YA. Buku ini bermanfaat, YA. Kekurangannya justru ada pada pengulangan suatu fakta di beberapa bab berbeda. Misal, tentang sifat manja dan cemburu Aisyah yang diulang beberapa bab. Jika maksudnya untuk menegaskan, saya akan mencoba memaklumi. Namun yang saya lihat justru fakta ini diungkapkan dalam konteks dan bahasa yang sama persis, maka saya jadi mengira sang penulis kekurangan bahan informai.

All in all, worthed lah. Buktinya saya jadi penasaran ingin tahu isi buku Khadijah.

*upload gambar menyusul*

-----
Update
Gambar di ambil semena-mena dan belum dapat izin, dari sini

Wednesday, 26 March 2008

Pudarnya Pesona Cleopatra


Setelah karya fenomenalnya Ayat-ayat Cinta, saya memang tergerak membaca tulisan Kang Habib lainnya. Ketika Cinta Bertasbih 1&2 sudah selesai dilahap. Pudarnya Pesona Cleopatra menjadi sasaran berikutnya.

Ternyata buku ini berisi 2 novel mini. Pudarnya Pesona Cleopatra menjadi novel yang pertama menceritakan upaya tak kenal lelah Raihana menghapus angan-angan Cleopatra yang memenuhi khayal sang suami. Raihana yang cantik, shalehah, sabar dan tidak menuntut ternyata tidak berhasil merebut cinta dari suaminya. Sang suami ternyata mendamba sosok Cleopatra sang wanita mesir dalam angan-angan istri idealnya. Cukup aneh, karena sang suami tidak pernah ke Mesir. Ceritanya berakhir menyedihkan (ups...maaf spoiler). Novel mini kedua, Setetes Embun Cinta Niyala berkisah tentang bimbang hati Niyala antara memenuhi cita-cita pribadi atau meringankan beban ayahanda tercinta. Problem yang disetting adalah problem klasik. Dijodohkan oleh orang tua dengan latar belakang balas budi. Kisah Niyala berakhir dengan manis. Sedikit agak mudah ditebak sih di pertengahan.

Saya yang terbiasa membaca novel tidak mini tentu berkerut keningnya. Life is too simple kalo dilihat dari novel ini.

*upload gambar menyusul*

----
Update
Gambar diambil semena-mena dan tanpa izin dari Dunia buku

Friday, 22 February 2008

Army of Roses


Kisah tentang para pelaku bom bunuh diri wanita. Hm...cukup menarik. Karena saya sama sekali belum pernah membayangkan apa yang ada di pikiran para pelaku bom bunuh diri itu, apalagi yang wanita.

Menelusuri halaman demi halaman buku ini, saya sempat kecewa. Saya membayangkan akan membaca kisah hidup para wanita pelaku bom bunuh diri. Biografi singkat yang menggambarkan bagaimana akhirnya mereka memutuskan untuk membawa bom bunuh diri itu.

Dengan maksud baik, penulis menyertakan juga keadaan politik dan sudut pandang para politikus dalam konflik Palestina-Israel. Dasar saya yang gak ngerti (dan gak minat) politik. Kepala saya jadi pening membacanya.

Tapi didalamnya memang ada juga kisah para syahidah ini. Keadaan negara mereka yang serba terbatas, konflik tak berkesudahan, keadaan keamanan yang tidak bisa diprediksi (penangkapan dan pembunuhan atas anggota keluarga sering terjadi) membuat mereka menganggap mati sahid dan masuk surga adalah opsi yang paling menyenangkan. Ajaibnya, hampir semua menyatakan bahwa setelah meledakkan bom bunuh diri, mereka tidak akan MATI. Mereka akan MENUJU SURGA. Bayangkan, ketika kebebasan sudah tidak ditangan, keamanan juga tiada bisa digenggam, apa yang lebih menarik daripada MASUK SURGA.

Sungguh, di mata mereka, hanya ada satu golongan yang menjadi sasaran. ORANG ISRAEL. Tidak perduli itu anak muda, orang tua, wanita, bagi mereka seluruh bangsa Israel adalah pihak yang bertanggungjawab atas nasib buruk mereka selama ini.

Bagaimana mereka tega membunuh wanita tak berdosa? Politikus dan tentara kan isinya lelaki. Mungkin begitu pikir anda.

Tapi para syahidah ini melihat dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana saudara mereka diculik atau terbunuh oleh orang Israel. Semua orang Israel tidak ada bedanya, mungkin demikian pikir mereka.


Gambar dicuri dari bukukita

Girls of Riyadh


Tergoda oleh postingan Ollie, saya akhirnya menenteng buku ini ke rumah. Seperti apa sih cerita tentang gadis-gadis Arab yang menghebohkan di negerinya itu.

Jadi buku ini adalah kumpulan email yang dikirimkan Rajaa Alsanea (sang penulis) lewat milis setiap hari Jumat. Rajaa menceritakan potongan-potongan kisah 4 gadis Arab, Lumeis, Michelle, Shedim, dan Qamrah. Usia mereka sekitar 20tahunan. Masing-masing punya karakteristik berbeda dan kisah berbeda dalam proses pencarian cinta.

Budaya dan kebiasaan yang mengental di Arab menjadi latar belakang penceritaan. Bagaimana umumnya proses pernikahan hanya diawali oleh lamaran dari pihak pria. Sang wanita jarang punya kesempatan untuk mengenal calon suaminya. Bagaimana keluarga memegang peran penting untuk memutuskan nasib seorang wanita.

Overall, saya tidak terlalu excited dengan buku ini. Mungkin karena saya sudah membaca Trilogi Princess kemaren, jadi sudah tidak terkaget kaget lagi dengan setting buku ini. Dan juga, saya tidak terlalu "tersentuh" dengan potongan puisi atau kutipan lainnya yang sering diletakkan sebagai pembuka setiap email.

Perlu dibaca? Hm... gak terlalu recomended sih. Tapi up to you lahhh... :)

Gambar dicolong dengan susah payah karena internet yang lemot dan tentu saja tanpa izin dari kutukutubuku

Friday, 25 January 2008

Ketika Cinta Bertasbih 2


Setelah "digantung" oleh kang Habib dalam ending Ketika Cinta Bertasbih 1, buku ini tentu ditunggu-tunggu pembaca yang ingin mengetahui akhir kisah Azzam.

Anna Althafunnisa akhirnya pulang ke Indonesia untuk menyusun tesisnya. Tidak lama berselang, Azzam pun tiba di Indonesia. Kedua orang yang sempat disebut di buku pertama ini melanjutkan hidupnya masing-masing di tanah air.

Anna menerima lamaran Furqan. Pernikahan pun disipakna. Furqan masih menyembunyikan fakta bahwa ia terinfeksi virus HIV dari semua orang, bahkan Anna.

Azzam membuka usaha bakso di kampungnya. Usahanya berjalan lanca. Komunikasi Azzam dan Anna terbangun melalui Husna, adik Azzam yang diundang untuk bedah buku yang ditulisnya di pesantren milik ayah Anna.

Tiba juga waktunya untuk Azzam menemukan jodohnya. Meski Azzam pernah kuliah di Mesir dan memiliki usaha bakso yang berhasil di tanah air, jodoh ternyata merupakan perjuangan yang harus dilalui Azzam. Padahal syarat yang diajukan Azzam hanya satu, calonnya harus disetujui oleh Ibunda tercinta, Bu Nafis. Rina, Mila, Afifatul Qanaah, Eva, Seila, tidak ada yang mendapat restu. Dengan Vivi lah akhirnya Bu Nafis memberi restu. Persiapan pernikahan pun diadakan. Disaat yang sama Husna pun menyiapkan pernikahannya dengan Ilyas.

Skenario indah yang tampak di pelupuk mata harus berantakan karena musibah yang dialami keluarga Azzam. Akhir kisah Azza, Anna, Furqan, Husna, Eliana, dll tentu akan lebih seru kalo dibaca sendiri.

Untuk novel ini, saya cukup merasa ngos-ngosan membacanya. Perjalanan hidup yang berliku harus dilalui tokohnya. Banyaknya tokoh yang mengambil peran, juga cukup membuat kening berkerut.

Seperti Ayat-Ayat Cinta, novel ini juga padat dengan kajian-kajian Islami. All in all... padat menghibur.
Puas ? Tentu
Saya sudah lupa harga buku ini. Yang saya ingat hanya diskonnya yang 30% di Indonesian Book Fair.

Gambar dicuri dari situsnya bukukita

*maap, review Ketika Cinta Bertasbih 1 nya malah belum dibuat. Harus baca ulang dulu*